Bukittinggi,Humas–Ikatan Penyuluh Agama Islam Republik Indonesia (IPARI) Kota Bukittinggi kembali mengadakan pertemuan pada hari ini.
Bertempat di aula Kantor Kementerian Agama setempat.
Senin, 18 November 2024.
Pertemuan ini menjadi momen strategis untuk mengevaluasi kinerja tahun 2024 serta merencanakan tugas-tugas kepenyuluhan tahun 2025. Kegiatan yang dihadiri oleh para penyuluh agama Islam tersebut diawali dengan arahan dari Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam (Kasi Bimas Islam) Kementerian Agama Kota Bukittinggi, H. Zulfikar.
Dalam sambutannya, H. Zulfikar menekankan pentingnya peningkatan kualitas tugas-tugas kepenyuluhan sesuai dengan Standar Kinerja Pegawai (SKP).
“Penyuluh agama Islam adalah ujung tombak Kementerian Agama di tengah masyarakat. Tugas ini menuntut tanggung jawab besar untuk memberikan bimbingan dan solusi atas berbagai permasalahan umat. Oleh karena itu, penyusunan SKP harus mencerminkan program kerja yang nyata dan berdampak,” ujar H. Zulfikar.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya inovasi dalam kegiatan kepenyuluhan agar pesan-pesan keagamaan dapat diterima dengan baik oleh berbagai kalangan masyarakat, khususnya generasi muda yang menjadi salah satu fokus pembinaan.
Ketua IPARI Kota Bukittinggi, H. Azerul, yang memimpin jalannya pertemuan, kemudian mengarahkan diskusi untuk membahas program kerja tahun 2025. Ia menekankan perlunya sinergi dan kolaborasi antara sesama penyuluh untuk mencapai tujuan yang lebih besar.
“Untuk tahun depan, kita harus fokus pada program-program yang relevan dengan tantangan zaman, seperti penguatan moderasi beragama, pemberdayaan ekonomi umat, dan pembinaan generasi muda. Penyuluh harus menjadi solusi atas persoalan-persoalan sosial di masyarakat,” ujar H. Azerul.
“Kami berharap pertemuan ini dapat menjadi momentum untuk memperkuat kiprah penyuluh agama Islam di Bukittinggi. Dengan komitmen yang kuat, insya Allah tugas kepenyuluhan kita akan lebih optimal dan berdampak luas,” tutup H. Azerul.
Dalam sesi berikutnya, peserta pertemuan mendengarkan paparan terkait PAI Award yang disampaikan oleh Rusman Edi, salah satu tokoh penyuluh agama Islam yang telah meraih penghargaan tersebut. Rusman berbagi pengalaman dan strategi dalam meningkatkan kinerja kepenyuluhan sehingga mampu mencapai prestasi di tingkat nasional.
“PAI Award bukan sekadar penghargaan, tetapi motivasi bagi kita semua untuk terus meningkatkan profesionalisme. Keberhasilan kita dalam mendampingi umat dapat diukur dari seberapa besar dampak positif yang kita berikan,” jelas Rusman Edi
Pertemuan ini juga menjadi forum diskusi tentang kendala yang sering dihadapi penyuluh agama di lapangan.
(Andreas)