Bukittinggi, Inmas–Bagi umat Islam menyelenggarakan jenazah merupakan Kewajiban bagi orang yang hidup untuk mengurus dan hukumnya adalah fardlu kifayah. Mengurus jenazah yang dimaksud meliputi memandikan, mengafani, menyalatkan, dan menguburkan. Kewajiban menyelenggarakan jenazah ini di tuntut Kepada umat Islam itu sendiri dan harus mampu pada setiap diri seorang muslim baik laki-laki maupun perempuan. Namun di akui kemauan dan kemampuan umat Islam itu sendiri sesuai perkembangan zaman kewajiban yang satu ini sudah berangsur menurun dengan berbagai alasan dan tidak bisa atau tidak mampu ataupun merasa takut.
Ketua Pokjaluh Kankemenag Kota Bukittinggi Rusman Edi pada Inmas Kamis, 31/10/2019 menyampaikan. “Dari sisi psikologis tidak ada yang mesti di takuti dari orang yang sudah meninggal karena mereka tidak akan kembali hidup di dunia. Realitanya jawaban seperti itu masih terdengar di sebagian masyarakat. Bila di pahami dengan seksama sebetulnya bukan takut terhadap si mayit akan tetapi kemampuan dan kesiapan mental yang perlu di tingkatkan,” tuturnya.
Selanjutnya kata Rusman Edi di sinilah perann penyuluh Agama Islam sangat di butuhkan dalam memberikan informasi dan pencerahannya dalam upaya meningkatkan potensi pemahaman, agama serta pengamalan ajaran agama di tengah-tengah masyarakat. Seorang penyuluh harus mampu menyampaikan informasi ataupun tata cara dalam penyelenggaraan jenazah khususnya.
“Dalam rangka melihat kemampuan personal penyuluh dalam bidang fardhu kifayah ini Forum Komunikasi Penyuluh Agama Islam( FKPAI)Provinsi Sumatera Barat sengaja mengangkat kan acara lomba penyelenggaraan jenazah antar Pokjaluh Kab/ kota Se-Sumatera Barat dengan tujuan utama melihat dari dekat kompetensi para penyuluh dalam menyelenggarakan jenazah. sehingga tentu bisa jadi gambaran secara komprhensif keilmuan, pemahaman penyuluh terhadap langkah langkah dalam penyelenggaraan jenazah. Khusus bagi Pokjaluh Bukittinggi menyambut baik kegiatan lomba ini dengan mengirim 5 duta utusannya ke ajang lomba TK. Provinsi Sumbar ini,” pungkasnya lagi.
Adapun utusan Pokjaluh Bukittinggi Rusman Edi (Ketua Pokjaluh Kemenag Bukittinggi) yang terjun langsung sebagai peserta, Joni, H. Azerul, 4. Bulkhaini dan Indra Al Amir. Tim solid ini telah mempersiapkan diri semaksimal mungkin, telah tampil di medan lomba dengan maksimal namun belum meraih hasil yang di harapkan. Setidaknya moment ini dapat di jadikan catatan bagi peserta untuk lebih meningkatkan usahanya di masa mendatang. Dalam sebuah kompetisi kita harus sportif dalam arti memahami sisi kelemahan kita dan memprlajari kelebihan orang lain. Bagi kami selaku peserta dan anggota Pokjaluh hal ini bukan membuat semangat jadi kendor tapi ini jadi cemeti agar lebih baik dimasa datang. (Andreas)