KoBukittinggi, Inmas–Perkembangan teknologi hari ini dibarengi dengan membanjirnya aliran informasi ke setiap dinding-dinding rumah masyarakat. Umat yang dahulunya terbiasa dengan informasi terbatas, sekarang menerima informasi tak berbatas. Jelas, ini menimbulkan shocking social (keterkejutan sosial), shocking culture (keterkejutan budaya) dan shocking personality (keterkejutan kepribadian). Hal ini seperti yang disampaikan Mediya Eka Putra (Widyaswara Balai Diklat Keagamaan Padang) sebagai narasumber pada Pembinaan Penyuluh Agama Islam Konten Dakwah Pada Media Sosial di lingkungan Kankemenag Kota Bukittinggi Bertempat di Hotel Nuansa Maninjau 14 Maret 2020.
Selanjutnya narasumber yang terkenal dengan Mr. Plong ini menyampaikan bahwa Era ini juga disebut sebagai era disrupsi, semuanya serba cepat dan mudah, di satu sisi membawa faedah, sisi lain memunculkan ketidaksiapan mental. Banyak umat dan masyarakat yang mengalami kegelisahan, ketakutan, dan fenomena kejiwaan lainnya.
“Salah satu peran penting yang langsung bersentuhan dengan umat dan masyarakat adalah para Penyuluh Agama, yang berlatar belakang sebagai muballigh, ustaz, penceramah, da’,i dsb,” tuturnya.
Jika dulu, dakwah terbatas di satu tempat, wilayah, maka era digital ini dakwah melampaui batas wilayah, bahkan satu satunya profesi yang jangakaun wilayah nya tak berbatas adalah para juru dakwah. Seorang juru dakwah materi dakwahnya bisa diterima di seantero dunia melalui media sosial.
Kemajuan teknologi hari ini melalui media sosial bisa di manfaatkan sebagai alat menyampaikan pesan pesan perubahan kepada umat dan masyarakat. Karena figur seorang juru dakwah, memiliki pengaruh yang kuat, setiap ucapan dan perbuatannya menjadi pegangan umat, maka seyogyanya saluran media sosial juga dimanfaatkan sebesar besarnya menyampaikan pesan dakwah yang egaliter, terhormat, dan membumi, sesuai dengan kebutuhan ruhani umat.
Selain itu, konten dakwah juga diikhtiarkan untuk membangun paradigma umat yang berkesadaran dalam menjalankan ajaran agama, tidak sebatas menyampaikan pesan tekstual semata, sebatas tugas, tetapi juga pesan pesan terdalam dari ayat ayat Allah. Tentunya ini adalah proses yang berkelanjutan dan tiada henti, dan dukungan semua pihak. (Syafrial)