Lompat ke konten

“NGOPI, Moderasi Beragama” untuk Pengurus Rohis SMA/SMK

Bukittinggi,Humas–Kementerian Agama Kota Bukittinggi menggelar kegiatan bertajuk Ngobrol Pendidikan Islam (NGOPI) dengan tema “Moderasi Beragama” pada Kamis, 17 Oktober 2024. Kegiatan ini diadakan di Aula Kantor Kementerian Agama (Kemenag) setempat dan diikuti oleh seluruh Ketua dan Sekretaris Rohani Islam (Rohis) tingkat SMA/SMK se-Kota Bukittinggi. Acara ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman moderasi beragama di kalangan siswa sebagai bagian dari upaya membentuk generasi muda yang toleran dan berakhlak mulia.

Didampingi oleh Kepala Seksi Pendidikan Agama Islam, H. Tamrin, dan Pengawas Pendidikan Agama Islam (PAI), Syahniar serta Pelaksana pada Seksi PAI, H. Eri Iswandi menjadi pemateri pertama sekaligus membuka secara resmi kegiatan NGOPI tersebut. Kegiatan NGOPI ini merupakan salah satu inisiatif Kemenag Kota Bukittinggi melalui Seksi Pendidikan Agama Islam bersama Pengawas PAI untuk mengajak siswa lebih aktif dalam memahami dan mempraktikkan moderasi beragama. Hal ini sejalan dengan program nasional Kementerian Agama yang terus mengkampanyekan pentingnya moderasi beragama sebagai pondasi dalam menjaga kerukunan umat beragama di Indonesia.

Dalam sambutannya, Kepala Kantor Kemenag Kota Bukittinggi, H. Eri Iswandi menyampaikan pentingnya moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari, terutama di tengah tantangan keberagaman yang semakin kompleks dan menekankan pentingnya peran pelajar sebagai agen perubahan dalam menyebarkan pesan moderasi beragama.

“Moderasi beragama adalah kunci untuk menjaga harmoni di tengah masyarakat yang majemuk. Melalui kegiatan ini, kita ingin menanamkan nilai-nilai tersebut sejak dini kepada para siswa,” ungkap H. Eri Iswandi.

“Moderasi beragama bukan hanya tentang menjaga keseimbangan, tetapi juga menghargai perbedaan dan membangun kebersamaan,” ujarnya. Beliau berharap kegiatan NGOPI ini dapat menjadi platform dialog terbuka dan reflektif bagi para pelajar,” imbuhnya

“Moderasi adalah kunci dalam menjaga kerukunan antarumat beragama, khususnya di Indonesia yang dikenal sebagai negara dengan keragaman agama. Moderasi mengajarkan kita untuk tidak ekstrem dalam pemahaman agama, tetapi tetap teguh pada prinsip-prinsip keimanan yang inklusif,” imbuhnya.

“Selamat mengikuti kegiatan NGOPI, Moderasi Beragama, kami berharap kegiatan ini dapat memberikan dampak positif bagi para pengurus Rohis di SMA/SMK se-Kota Bukittinggi dan meneruskan pesan moderasi beragama kepada rekan-rekan sesama siswa, sehingga tercipta lingkungan sekolah yang kondusif, toleran, dan menghargai perbedaan,” tandasnya

Seluruh peserta, yang terdiri dari ketua dan sekretaris Rohis SMA/SMK se-Kota Bukittinggi, tampak antusias mengikuti kegiatan ini. Mereka mendapatkan kesempatan untuk berdialog langsung dengan narasumber yang kompeten di bidang pendidikan Islam. Dua narasumber yang dihadirkan, yakni H. Tamrin dan Syahniar, membawakan materi seputar pentingnya moderasi beragama di lingkungan sekolah dan bagaimana peran Rohis dalam mengkampanyekan nilai-nilai tersebut di kalangan siswa. Mereka juga mengajak seluruh peserta untuk menjadi agen perubahan di sekolah masing-masing.

Kepala Seksi Pendidikan Agama Islam, H. Tamrin, dalam pemaparannya menekankan bahwa moderasi beragama bukan hanya sekedar konsep teoritis, melainkan harus diimplementasikan dalam kehidupan nyata.

“Siswa, sebagai generasi penerus, harus memahami bahwa moderasi beragama mengajarkan sikap toleransi, saling menghormati, dan tidak mudah terpengaruh oleh paham-paham ekstrem,” ujarnya.

Sementara itu, Syahniar, sebagai Pengawas PAI, menyoroti peran penting pendidikan agama dalam membentuk karakter siswa yang moderat dan inklusif.

“Rohis di setiap sekolah memiliki tanggung jawab untuk menyebarkan pesan-pesan moderasi beragama kepada teman-teman mereka. Dengan demikian, diharapkan tercipta lingkungan sekolah yang damai dan harmonis,” jelasnya.

Selain paparan dari narasumber, kegiatan ini juga diisi dengan sesi tanya jawab, di mana para peserta diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan dan berdiskusi langsung dengan narasumber. Sesi ini menjadi ajang yang sangat interaktif, dengan banyaknya pertanyaan seputar implementasi moderasi beragama di lingkungan sekolah.
(Andreas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *